MAKALAH
TEORI PERKEMBANGAN PIAGET
Disusun oleh :
KE
Disusun
oleh :
DARMAJID :
D54211086
YUSFITA : D542110111
FAKULTAS
TARBIYAH
JURUSAN
PENDIDIKAN MATEMATIKA
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2013
KATA
PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan
ke hadirat ALLAH SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga makalah
yang berjudul ” Teori
Perkembangan Kognitif Jean Piaget dan Implementasinya dalam Pendidikan”
dapat kami selesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
Makalah ini kami susun guna memenuhi tugas kelompok dalam
mata kuliah “Strategi pembelajaran matematika”.
Ada banyak pihak yang telah membantu
dalam penyusunan makalah ini. Untuk itu, ucapan terima kasih tak lupa kami
tujukan kepada :
1. Ibu Febriana Kristanti ,
M.Pd., selaku dosen pembimbing yang
telah memberikan materi Strategi pembelajaran
Matematika pada mata kuliah di
IAIN Sunan Ampel Surabaya
2. Teman-teman
sekelas dan teman-teman sekelompok
3. Seluruh
pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu, yang telah banyak membantu
sehingga makalah ini dapat kami selasaikan tepat pada waktunya tanpa halangan
suatu apapun.
Kami menyadari sepenuhnya, bahwa
makalah ini jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran dari semua pihak
sangat kami harapkan.
Demikian
makalah ini kami susun. Semoga bermanfaat dan terima kasih.
Surabaya, 01 April 2013
Penyusun
IDENTITAS
PENULIS
Nama : DARMAJID
Kelas : A
NIM : d 54211086
Email : darmajidmajid@ymail.com
No.HP : 03437868327
Nama : YUSFITA
Kelas : A
NIM : D 54211111
Email : Ys.Yusfita.aminda@gmail.Com
No.HP : 081233015134
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL ............................................................................................ i
KATA
PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR
ISI ........................................................................................................ iii
PETA
KONSEP ………………………………………………………………..iv
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah ……………………………………. 1
B. Rumusan
Masalah ……………………………………………. 1
C. Tujuan
Penulisan …………………………………………… 1
D. Manfaat
Penulisan …………………………………………… 1
BAB
II PEMBAHASAN
A. Tokoh
Jerome S. Bruner ………………………………….. 2
B. Teori
Belajar Bruner …………………………………... 2
C. Aplikasi
Teori Belajar Bruner dalam Pembelajaran…… 9
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan
………………………………………………… 15
B. Saran
………………………………………………………... 15
DAFTAR
PUSTAKA ......................................................................................... .... 16
PETA
KONSEP
Konsep
Teori Belajar Bruner dapat digambarkan sbb:
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pengetahuan itu bukanlah salinan
dari obyek dan juga bukan berbentuk kesadaran apriori yang sudah ditetapkan di
dalam diri subyek, ia bentukan perseptual, oleh pertukaran antara organisme dan
lingkungan dari sudut tinjauan biologi dan antara fikiran dan obyeknya menurut
tinjauan kognitif.
Piaget, dalam Bringuier, 1980, hlm.
110.
Teori Jean Piaget tentang
perkembangan kognitif memberikan batasan kembali tentang kecerdasan,
pengetahuan dan hubungan anak didik dengan lingkungannya. Kecerdasan merupakan
proses yang berkesinambungan yang membentuk struktur yang diperlukan dalam
interaksi terus menerus dengan lingkungan. Struktur yang dibentuk oleh kecerdasan,
pengetahuan sangat subjektif waktu masih bayi dan masa kanak – kanak awal dan
menjadi objektif dalam masa dewasa awal.
Perkembangan cara berfikir yang
berlainan dari masa bayi sampai usia dewasa meliputi tindakan dari bayi, pra
operasi, operasi kongkrit dan opersai formal. Proses dibentuknya setiap
struktur yang lebih kompleks ini adalah asimilasi dan akomodasi, yang diatur
oleh ekuilibrasi.
Piaget juga memberikan proses
pembentukan pengetahuan dari pandangan yang lain, ia menguraikan pengalaman
fisik atau pengetahuan eksogen, yang merupakan abstraksi dari ciri – ciri dari
obyek, pengalaman logis matematis atau pengetahuan endogen disusun melalui
reorganisasi proses pemikiran anak didik . Sruktur tindakan, operasi kongkrit
dan operasai formal dibangun dengan jalan logis – matematis.
Sumbangan bagi praktek pendidikan
untuk karya – karya Piaget mengenali pengetahuan yang disosialisasikan dari
sudut pandangan anak. Implementasi kurikulum menjadi pelik oleh kenyataan bahwa
teorinya tidak memasukan hubungan antara berfikir logis dan pelajaran –
pelajaran pokok seperti membaca dan menulis.
B. Rumusan Makalah
a. Pengertian Kognitif
b. Prinsip dasar teori Piaget
c. Aspek
inteligensi
d. Teori
Perkembangan Piaget
e. Implementasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran
f. Kritik Terhadap Teori Piaget
C. Tujuan Perumusan Masalah, Untuk
mengetahui tentang :
a. Pengertian
Kognitif
b. Prinsip
dasar teori Piaget
c. Aspek
inteligensi
d. Teori
Perkembangan Piaget
e. Implementasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran
f. Kritik Terhadap Teori Piaget
BAB
II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Kognitif
Kognitif adalah salah satu ranah dalam
taksonomi pendidikan. Secara umum kognitif diartikan potensi
intelektual yang terdiri dari tahapan : pengetahuan (knowledge), pemahaman
(comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa
(sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif berarti persoalan yang
menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal).
Teori kognitif lebih menekankan
bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang
dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu kognitif berbeda dengan teori
behavioristik, yang lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku yang
diwujudkan dengan cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang kepada
dirinya.
Dalam kehidupan sehari-hari kita
sering mendengar kata kognitif. Dari aspek tenaga pendidik misalnya. Seorang
guru diharuskan memiliki kompetensi bidang kognitif. Artinya seorang guru harus
memiliki kemampuan intelektual, seperti penguasaan materi pelajaran,
pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan cara menilai siswa dan
sebagainya.
Akan tetapi apa arti kognitif yang
sebenarnya? Lalu apa perkembangan kognitif itu?
Jean Piaget (1896-1980), pakar
psikologi dari Swiss, mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia
kognitif mereka sendiri. Dalam pandangan Piaget, terdapat dua proses yang
mendasari perkembangan dunia individu, yaitu pengorganisasian dan penyesuaian
(adaptasi).
Kecenderungan organisasi dapat
dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk mengintegasi
proses-proses sendiri menjadi system - sistem yang koheren. Adaptasi dapat
dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk memyesuaikan diri
dengan lingkungan dan keadaan sosial.
Piaget yakin bahwa kita menyesuaikan
diri dalam dua cara yaitu asimiliasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi ketika
individu menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang sudah
ada. Sedangkan akomodasi adalah terjadi ketika individu menyesuaikan diri
dengan informasi baru.
B. Prinsip Dasar Teori Piaget
Jean Piaget dikenal dengan teori
perkembangan intelektual yg menyeluruh, yg mencerminkan adanya kekuatan antara
fungsi biologi & psikologis ( perkembangan jiwa).
Piaget menerangkan inteligensi itu
sendiri sebagai adaptasi biologi terhadap lingkungan. Contoh : manusia tidak
mempunyai mantel berbulu lembut untuk melindunginya dari dingin; manusia tidak
mempunyai kecepatan untuk lari dari hewan pemangsa; manusia juga tidak
mempunyai keahlian dalam memanjat pohon. Tapi manusia memiliki kepandaian untuk
memproduksi pakaian & kendaraan untuk transportasi.
Faktor yang Berpengaruh dalam
Perkembangan Kognitif,
yaitu :
- Fisik
Interaksi
antara individu dan dunia luat merupakan sumber pengetahuan baru, tetapi kontak
dengan dunia fisik itu tidak cukup untuk mengembangkan pengetahuan kecuali jika
intelegensi individu dapat memanfaatkan pengalaman tersebut.
- Kematangan
Kematangan
sistem syaraf menjadi penting karena memungkinkan anak memperoleh manfaat
secara maksimum dari pengalaman fisik. Kematangan membuka kemungkinan untuk
perkembangan sedangkan kalau kurang hal itu akan membatasi secara luas prestasi
secara kognitif. Perkembangan berlangsung dengan kecepatan yang berlainan
tergantung pada sifat kontak dengan lingkungan dan kegiatan belajar sendiri.
- Pengaruh sosial
Lingkungan
sosial termasuk peran bahasa dan pendidikan, pengalaman fisik dapat memacu atau
menghambat perkembangan struktur kognitif
- Proses pengaturan diri yang
disebut ekuilibrasi
Proses
pengaturan diri dan pengoreksi diri, mengatur interaksi spesifik dari individu
dengan lingkungan maupun pengalaman fisik, pengalaman sosial dan perkembangan
jasmani yang menyebabkan perkembangan kognitif berjalan secara terpadu dan
tersusun baik.
C. Aspek Inteligensi
Menurut Piaget, inteligensi dapat
dilihat dari 3 perspektif berbeda :
- Struktur Disebut juga scheme (skemata/Schemas). Struktur
& organisasi terdapat di lingkungan, tapi pikiran manusia lebih dari
meniru struktur realita eksternal secara pasif. Interaksi pikiran manusia
dengan dunia luar, mencocokkan dunia ke dalam “mental framework”-nya
sendiri. Struktur kognitif merupakan mental framework yg dibangun
seseorang dengan mengambil informasi dari lingkungan & menginterpretasikannya,
mereorganisasikannya serta mentransformasikannya (Flavell, Miller &
Miller)
Dua hal
penting yg harus diingat tentang membangun struktur kognitif :
a.
seseorang terlibat secara aktif dalam membangun proses.
b.
lingkungan dimana seseorang berinteraksi penting untuk
perkembanga struktural.
- Isi
Disebut juga content, yaitu pola tingkah laku spesifik tatkala
individu menghadapi sesuatu masalah. Merupakan materi kasar, karena Piaget
kurang tertarik pada apa yg anak-anak ketahui, tapi lebih tertarik dengan
apa yang mendasari proses berpikir. Piaget melihat “isi” kurang penting
dibanding dengan struktur & fungsinya, Bila isi adalah “apa” dari
inteligensi, sedangkan “bagaimana” & “mengapa” ditentukan oleh
kognitif atau intelektual.
- Fungsi Disebut fungtion, yaitu suatu proses dimana
struktur kognitif dibangun. Semua organisme hidup yg berinteraksi dengan
lingkungan mempunyai fungsi melalui proses organisasi & adaptasi.
Organisasi: cenderung untuk mengintegrasi diri & dunia ke dalam suatu
bentuk dari bagian-bagian menjadi satu kesatuan yg penuh arti, sebagai
suatu cara untuk mengurangi kompleksitas.
Adaptasi terhadap lingkungan terjadi
dalam 2 cara :
a) organisme
memanipulasi dunia luar dengan cara membuatnya menjadi serupa dengan dirinya. Proses ini disebut dengan asimilasi.
Asimilasi mengambil sesuatu dari dunia luar & mencocokkannya ke dalam
struktur yg sudah ada. contoh: manusia mengasimilasi makanan dengan membuatnya
ke dalam komponen nutrisi, makanan yg mereka makan menjadi bagian dari diri
mereka.
b) organisme
memodifikasi dirinya sehingga menjadi lebih menyukai lingkungannya. Proses ini disebut akomodasi. Ketika seseorang mengakomodasi
sesuatu, mereka mengubah diri mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan
eksternal. contoh: tubuh tidak hanya mengasimilasi makanan tapi juga
mengakomodasikannya dengan mensekresi cairan lambung untuk menghancurkannya
& kontraksi lambung mencernanya secara involunter.
Melalui kedua proses penyesuaian
tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa
meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut
dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium,
yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan
pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan
seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian
di atas.
D. Teori Perkembangan Piaget
Jean Piaget, merancang
model yang mendeskripsikan bagaimana manusia memahami dunianya dengan
mengumpulkan dan mengorganisasikan informasi. Menurut Piaget seperti yang
dikutip Woolfolk (2009) perkembangan kognitif dipengaruhi
oleh maturasi (kematangan), aktivitas dan transmisi sosial. Maturasi
atau kematangan berkaitan dengan perubahan biologis yang terprogram secara
genetik. Aktivitas berkaitan dengan kemampuan untuk menangani lingkungan dan
belajar darinya. Transmisi sosial berkaitan dengan interaksi dengan orang-orang
di sekitar dan belajar darinya.
Tahap – tahap
Perkembangan
Piaget membagi perkembangan kognitif
anak ke dalam 4 periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih
seiring pertambahan usia :
1. Periode sensorimotor (usia 0–2
tahun)
2. Periode praoperasional (usia 2–7
tahun)
3. Periode operasional konkrit (usia
7–11 tahun)
4. Periode operasional formal (usia 11
tahun sampai dewasa)
- Periode sensorimotor
Menurut Piaget, bayi lahir dengan
sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya.
Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode
sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode.
Piaget
berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman
spatial / persepsi penting dalam enam sub-tahapan :
a.
Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam
minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
b.
Sub-tahapan fase reaksi sirkular
primer, dari usia enam
minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan- kebiasaan.
c.
Sub-tahapan fase reaksi sirkular
sekunder, muncul antara
usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi
antara penglihatan dan pemaknaan.
d.
Sub-tahapan koordinasi reaksi
sirkular sekunder,
muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan
untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda
kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
e.
Sub-tahapan fase reaksi sirkular
tersier, muncul dalam
usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan
penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
f.
Sub-tahapan awal representasi
simbolik, berhubungan
terutama dengan tahapan awal kreativitas.
- Tahapan praoperasional
Tahapan ini merupakan tahapan kedua
dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan
bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari
fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra) Operasi dalam teori Piaget
adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri
dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak
memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan
objek dengan gambaran dan kata-kata.
Pemikirannya masih bersifat
egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak
dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan
semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda
bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan
pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua
sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan
berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan
gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis.
Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak
dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu
sama lain.
Mereka kesulitan memahami bagaimana
perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk
memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat
imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun
memiliki perasaan.
- Tahapan operasional konkrit
Tahapan ini adalah tahapan ketiga
dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai
ciri berupa penggunaan logika yang memadai.
Proses-proses penting selama tahapan
operasional konkrit adalah :
Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek
menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda
ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling
kecil.
Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan
mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau
karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat
menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki
keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan
berperasaan)
Decentering—anak mulai mempertimbangkan
beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh
anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya
dibanding cangkir kecil yang tinggi.
Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah
atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu,
anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama
dengan 4, jumlah sebelumnya.
Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang,
atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau
tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi
cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air
dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap
sama banyak dengan isi cangkir lain.
Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu
dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara
yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan
boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan
boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam
tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka
itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan
ke dalam laci oleh Ujang.
- Tahapan operasional formal
Tahap operasional formal adalah
periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai
dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut
sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk
berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari
informasi yang tersedia.
Dalam tahapan ini, seseorang dapat
memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala
sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “gradasi abu-abu” di
antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat
terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa
secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan
perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan
sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai
seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
Informasi umum mengenai
tahapan-tahapan
Keempat tahapan ini memiliki
ciri-ciri sebagai berikut :
- Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi
tetapi urutannya selalu sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan
tidak ada urutan yang mundur.
- Universal (tidak terkait budaya)
- Bisa digeneralisasi : representasi dan logika dari
operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan
isi pengetahuan
- Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang
terorganisasi secara logis
- Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan
mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi
dan terintegrasi)
- Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif
dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif
Pembelajaran dilakukan
dengan memusatkan perhatian kepada :
- berfikir atau proses mental anak, tidak
sekedar pada hasilnya dan mengutamakan peran siswa dalam kegiatan
pembelajaran serta memaklumi adanya perbedaan individu dalam kemajuan
perkembangan yang dapat dipegaruhi oleh perkembangan intelektual anak.
- Teori
dasar perkembangan kognitif dari Jean Piaget mewajibkan guru agar
pembelajaran diisi dengan kegiatan interaksi inderawi antara siswa dengan
benda-benda dan fenomema konkrit yang ada di lingkungan serta dimaksudkan
untuk menumbuh-kembangkan kemampuan berpikir, antara lain kemampuan
berpikir konservasi.
- Piaget memusatkan pada tahap-tahap perkembangan intelektual
yang dilalui oleh semua individu tanpa memandang latar konteks
sosial dan budaya , yang mendalami bagaimana anak berpikir dan
berproses yang berkaitan dengan perkembangan intelektual.
- Menurut Peaget, siswa dalam segala usia secara aktif
terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka
sendiri.
- Pengetahuan tidak statis tetapi secara terus menerus
tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi pengalaman-pengalaman baru
yang memaksa mereka membangun dan memodivikasi pengetahuan awal mereka.
- Piaget menjelaskan bahwa anak kecil memiliki rasa ingin
tahu bawaan dan secara terus –menerus berusaha memahami dunia sekitarnya.
Rasa ingin tahu ini menurut Piaget, memotivasi mereka untuk aktif
membangun pemahaman mereka tentang lingkungan yang mereka hayati. PBI
dikembangkan berdasarkan kepada teori Piaget ini.
- Kebanyakan ahli psikologi sepenuhnya menerima
prinsip-prinsip umum Piaget bahwa pemikiran anak-anak pada dasarnya
berbeda dengan pemikiran orang dewasa, dan jenis logika anak-anak itu
berubah seiring dengan bertambahnya usia. Namun, ada juga peneliti yang
meributkan detail-detail penemuan Piaget, terutama mengenai usia ketika
anak mampu menyelesaikan tugas-tugas spesifik.
E. Implementasi Teori
Perkembangan Kognitif Piaget Dalam Pembelajaran, adalah :
- Bahasa dan cara berfikir anak
berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan
menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak
- Anak-anak akan belajar lebih
baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu
anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
- Bahan yang harus dipelajari
anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
- Berikan peluang agar anak
belajar sesuai tahap perkembangannya.
- Di dalam kelas, anak-anak hendaknya
diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
Inti dari implementasi teori Piaget
dalam pembelajaran antara lain sebagai berikut :
- Memfokuskan pada proses berfikir atau proses mental
anak tidak sekedar pada produknya. Di samping kebenaran jawaban siswa,
guru harus memahami proses yang digunakan anak sehingga sampai pada
jawaban tersebut.
- Pengenalan dan pengakuan atas peranan anak-anak yang
penting sekali dalam inisiatif diri dan keterlibatan aktif dalam kegaiatan
pembelajaran. Dalam kelas Piaget penyajian materi jadi (ready made) tidak
diberi penekanan, dan anak-anak didorong untuk menemukan untuk dirinya
sendiri melalui interaksi spontan dengan lingkungan.
- Tidak menekankan pada praktek - praktek yang diarahkan
untuk menjadikan anak-anak seperti orang dewasa dalam pemikirannya.
- Penerimaan terhadap perbedaan individu dalam kemajuan
perkembangan, teori Piaget mengasumsikan bahwa seluruh anak berkembang
melalui urutan perkembangan yang sama namun mereka memperolehnya dengan kecepatan
yang berbeda.
- Kritik terhadap Teori Piaget
- Pada sebuah studi klasik, McGarrigle dan Donalson
(1974) menyatakan bahwa anak sudah mampu memahami konservasi
(conservation) dalam usia yang lebih muda daripada usia yang diyakini oleh
Piaget.
- Studi lain yang
mengkritik teori Piaget yaitu bahwa anak-anak baru mencapai pemahaman
tentang objek permanence pada usia di atas 6 bulan. Balillargeon dan De
Vos (1991) ; 104 anak diamati sampai mereka berusia 18 tahun, dan diuji
dengan berbagai tugas operasional formal berdasarkan tugas-tugas yang
dipakai Piaget, termasuk pengujian hipotesa. Mayoritas anak-anak itu
memang belum mencapai tahap operasional formal. Hal ini sesuai dengan
studi-studi McGarrigle dan Donaldson serta Baillargeon dan DeVos, yang
menyatakan bahwa Piaget terlalu meremehkan kemampuan anak-anak kecil dan
terlalu menilai tinggi kemampuan anak-anak yang lebih tua.
- Dan belum lama ini, Bradmetz (1999) menguji pernyataan
Piaget bahwa mayoritas anak mencapai formal pada akhir masa kanak-kanak.
BAB
III
PENUTUP
/ KESIMPULAN
Jean Piaget (1896-1980), pakar
psikologi dari Swiss, mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia
kognitif mereka sendiri. Teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif
memberikan batasan kembali tentang kecerdasan, pengetahuan dan hubungan anak
didik dengan lingkungannya. Seorang guru diharuskan memiliki kompetensi bidang
kognitif. Artinya seorang guru harus memiliki kemampuan intelektual, seperti
penguasaan materi pelajaran, pengetahuan mengenai cara mengajar, pengetahuan
cara menilai siswa dan sebagainya.
Jean Piaget dikenal dengan teori
perkembangan intelektual yg menyeluruh, yg mencerminkan adanya kekuatan antara
fungsi biologi & psikologis. Bayi lahir dengan refleks bawaan, skema
dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk tingkah laku yang lebih kompleks.
Pada masa kanak-kanak , anak belum mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap.
Ia hanya dapat mengetahui hal-hal yang ditangkap dengan indranya. Anak telah
dapat mengetahui symbol-simbol matematis, tetapi belum dapat menghadapi hal-hal
yang abstrak (tak berwujud).
Menurut Piaget, inteligensi dapat
dilihat dari 3 perspektif berbeda :
1. Struktur 2. Isi 3. Fungsi
Menurut Piaget seperti
yang dikutip Woolfolk (2009) perkembangan kognitif dipengaruhi oleh maturasi
(kematangan), aktivitas dan transmisi sosial. Maturasi atau kematangan
berkaitan dengan perubahan biologis yang terprogram secara genetik.
Implementasi teori
perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
Bahasa dan cara berfikir
anak berbeda dengan orang dewasa, Anak-anak akan belajar lebih baik apabila
dapat menghadapi lingkungan dengan baik, bahan yang harus dipelajari anak
hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing, berikan peluang agar anak belajar
sesuai tahap perkembangannya dan di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi
peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
Perbandingan kritik
terhadap teori PIAGET
dan teori lainnya, diantara lain :
No.
|
Teori PIAGET
|
Teori lainnya
|
1.
2.
3.
|
periode operasional konkrit (usia
7–11 tahun)
mayoritas anak mencapai formal
pada akhir masa kanak-kanak
terlalu meremehkan kemampuan anak
- anak kecil dan terlalu menilai tinggi kemampuan anak-anak yang lebih tua
|
McGarrigle dan Donalson (1974)
menyatakan bahwa anak sudah mampu memahami konservasi (conservation) dalam
usia yang lebih muda daripada usia yang diyakini oleh Piaget
Balillargeon dan De Vos (1991)
Mayoritas anak-anak itu memang
belum mencapai tahap operasional formal
Tidak meremehkan kemampuan anak -
anak kecil dan tidak menilai tinggi kemampuan anak-anak yang lebih tua
|
DAFTAR
PUSTAKA
Margaret E. Bell Gredler, Belajar dan Membelajarkan,
CV Rajawali UniversitasTerbuka, 1991
Wikipedia, VALMBAND,
Latar
Belakang Jean Piaget, arthachristianti.wordpress.com,
Pembelajaran Guru,
Berbagai Bahan Terkait Model-Model
Pembelajaran
By Gina F & Balya
Hulaimy, Ibid., hlm. 28
Anita Woolfolk, Educational
Psychology, Active Learning Edition, Bagian Pertama, Edisi Bahasa
Indonesia. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar : 2009) hlm. 49-50
Santrock, op. cit., hlm
38-44
Jamaris. Op. Cit., hlm.
37
Anita Woolfolk.
Educational Psychology. Edisi Bahasa Indonesia. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2009) hlm. 51




0 komentar:
Posting Komentar