TEORI BELAJAR MATEMATIKA
JEROME S. BRUNER
DAN APLIKASINYA
![]() |
Disusun oleh :
KELOMPOK 2
Disusun
oleh :
KHUSNUL MAULIDIYAH : D54211098
DARMAJID :
D54211085
YUSFITA : D542110111
FAKULTAS
TARBIYAH
JURUSAN
PENDIDIKAN MATEMATIKA
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2012
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penulis
panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini
yang berjudul “Teori Belajar Matematika
Jerome S. Bruner dan Aplikasinya“.
Makalah ini diajukan guna
untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Pembelajaran Matematika. Dalam
kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini, yaitu kepada :
1. Tuhan
Yang Maha Esa yang senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada penulis.
2. Bpk.
Agus Prasetyo Kurniawan,M.Pd dan Ibu Sutini, M.Si selaku dosen mata kuliah Psikologi
Pembelajaran Matematika.
3. Orang
tua yang selalu mendukung setiap
aktivitas penulis.
4. Semua
pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa
dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan-kekurangan. Oleh karena
itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.
Penyusun
IDENTITAS
PENULIS
Nama : KHUSNUL
MAULUDIYAH
Kelas : A
NIM : D 54211098
Email : bu-dia@ymail.com
No.
HP : 03170209149
Nama : DARMAJID
Kelas : A
NIM : d 54211085
Email : dr.Darmajid.anisa@gmail.com
No.HP : 03437868327
Nama : YUSFITA
Kelas : A
NIM : D 54211110
Email : Ys.Yusfita.aminda@gmail.Com
No.HP : 081233015134
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
PETA KONSEP
………………………………………………………………..iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah ……………………………………. 1
B. Rumusan
Masalah ……………………………………………. 1
C. Tujuan
Penulisan …………………………………………… 1
D. Manfaat
Penulisan …………………………………………… 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Tokoh
Jerome S. Bruner ………………………………….. 2
B. Teori
Belajar Bruner …………………………………... 2
C. Aplikasi
Teori Belajar Bruner dalam Pembelajaran…… 9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
………………………………………………… 15
B. Saran
………………………………………………………... 15
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... .... 16
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Matematika adalah suatu bidang ilmu yang melatih
penalaran supaya berpikir logis dan sistematis dalam menyelesaikan masalah dan
mengambil keputusan. Mempelajarinya memerlukan cara tersendiri karena
matematika bersifat khas, yaitu abstrak, konsisten, hierarki, dan berpikir
deduktif.
Oleh
karena itu, pengajaran matematika di Sekolah hendaknya diarahkan agar siswa
mampu secara sendiri menyelesaikan masalah-masalah lain yang diselesaikan
dengan bantuan teori belajar matematika. Begitu pentingnya pengetahuan teori
belajar matematika dalam sistim penyampaian materi di kelas, sehingga setiap
metode pengajaran harus selalu disesuaikan dengan materi belajar.
Dengan
memahami kekhasan matematika dan karakteristik siswa, dapat diupayakan
cara-cara yang sesuai agar tujuan pembelajaran, baik yang bersifat kognitif,
psikomotorik, dan afektif dapat tercapai dengan optimal.
B. Rumusan
Masalah
1. Siapakah
Jerome S. Bruner?
2. Bagaimana
teori belajar Matematika menurut Bruner?
3. Bagaimana
aplikasi teori belajar Bruner dalam pembelajaran Matematika ?
C. Tujuan
Penulisan
1. Mengenal
tokoh teori belajar Jerome S. Bruner.
2. Mengetahui
teori belajar Matematika menurut Bruner.
3. Mengetahui
aplikasi teori belajar Bruner dalam pembelajaran Matematika .
D. Manfaat
Penulisan
Dengan
mengetahui teori belajar Matematika menurut Bruner, diharapkan para calon guru mampu menerapkannya dalam pembelajaran
Matematika sehingga pelajaran menjadi lebih menyenangkan dan siswa lebih mudah
dalam memahami pelajaran.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Tokoh
Jerome S. Bruner
Bruner
yang memiliki nama lengkap Jerome S.Bruner seorang ahli psikologi (1915) dari
Universitas Harvard, Amerika Serikat, telah mempelopori aliran psikologi
kognitif yang memberi dorongan agar pendidikan memberikan perhatian pada
pentingnya pengembangan berfikir.
Bruner banyak memberikan pandangan mengenai
perkembangan kognitif manusia, bagaimana manusia belajar, atau memperoleh
pengetahuan dan mentransformasi pengetahuan. Dasar pemikiran teorinya memandang
bahwa manusia sebagai pemproses, pemikir dan pencipta informasi.
Bruner menyatakan belajar merupakan suatu
proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru diluar
informasi yang diberikan kepada dirinya. Teori Bruner tentang kegiatan belajar manusia tidak
terkait dengan umur atau tahap perkembangan.
B. Teori
Belajar Bruner
Pengajaran
matematika di sekolah hendaknya diarahkan agar siswa mampu secara sendiri
menyelesaikan masalah-masalah lain yang diselesaikan dengan bantuan teori
belajar matematika. Begitu pentingnya pengetahuan teori belajar matematika
dalam sistem penyampaian materi di kelas, sehingga setiap metode pengajaran
harus selalu disesuaikan dengan teori belajar yang dikemukakan oleh ahli
pendidikan, salah satunya adalah Jerome S.Bruner.
Dalam
teorinya yang diberi judul “Teori Perkembangan Belajar”, Bruner menekankan pada
proses belajar meggunakan metode mental, yaitu individu yang belajar mengalami
sendiri apa yang dipelajarinya agar proses tersebut dapat direkam dalam
pikirannya dengan caranya sendiri.
Discovery learning dari Jerome Bruner, merupakan model pengajaran yang
dikembangkan berdasarkan pada pandangan kognitif tentang pembelajaran dan
prinsip-prinsip konstruktivis. Di dalam discovery learning siswa
didorong untuk belajar sendiri secara mandiri. Siswa belajar melalui
keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip dalam memecahkan
masalah, dan guru mendorong siswa untuk mendapatkan pengalaman dengan melakukan
kegiatan yang memungkinkan siswa menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka
sendiri. Pembelajaran ini membangkitkan keingintahuan siswa, memotivasi siswa
untuk bekerja sampai menemukan jawabannya. Siswa belajar memecahkan masalah
secara mandiri dengan keterampilan berpikir sebab mereka harus menganalisis dan
memanipulasi informasi.
Proses belajar tersebut oleh
Bruner dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :
1. Tahap
Enaktif
Dalam
tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara langsung
terlihat dalam memanipulasi (mengotak atik) objek. Pengetahuan itu dipelajari secara aktif, dengan
menggunakan benda-benda konkrit atau menggunakan situasi yang nyata. Misalnya
untuk memahami konsep operasi pengurangan bilangan cacah 7 – 4, anak memerlukan
pengalaman mengambil/membuang 4 benda dari sekelompok 7 benda.
2. Tahap
Ikonik
Dalam
tahap ini kegiatan penyajian dilakukan berdasarkan pada pikiran internal dimana
pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik yang
dilakukan anak, berhubungan dengan mental yang merupakan gambaran dari
objek-objek yang dimanipulasinya pada
tahap enaktif tersebut di atas (butir a).
3. Tahap
Simbolis
Tahap pembelajaran di mana
pengetahuan itu direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak (abstract
symbols, yaitu simbol-simbol arbiter yang dipakai berdasarkan kesepakatan
orang-orang dalam bidang yang bersangkutan), baik simbol-simbol verbal
(misalnya huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat), lambang-lambang matematika,
maupun lambang-lambang abstrak yang lain.
7 – 4 = 3
Kurikulum spiral
J. S. Bruner dalam belajar matematika menekankan
pendekatan dengan bentuk spiral. Pendekatan spiral dalam belajar mengajar matematika
adalah menanamkan konsep dan dimulai dengan benda kongkrit secara intuitif,
kemudian pada tahap-tahap yang lebih tinggi (sesuai dengan kemampuan siswa)
konsep ini diajarkan dalam bentuk yang abstrak dengan menggunakan notasi yang
lebih umum dipakai dalam matematika. Penggunaan konsep Bruner dimulai dari cara
intuitif ke analisis, dari eksplorasi ke
penguasaan. Misalnya, jika ingin menunjukkan angka 3
(tiga) supaya menunjukkan sebuah himpunan dengan tiga anggotanya.
Contoh
himpunan tiga buah Jeruk. Untuk menanamkan pengertian 3 diberikan 3 contoh himpunan jeruk. Tiga jeruk sama dengan 3 jeruk.

= 3
jeruk
Berdasarkan percobaan dan
pengalaman, Bruner dan Kenney merumuskan empat dalil (teorema) yang berkaitan
dengan pembelajaran matematika. Keempat dalil tersebut adalah :
1.
Dalil
penyusunan,(Kontruksi) yang menyatakan
bahwa siswa selalu mempunyai kemampuan mengusai definisi, teorema, konsep, dan
kemampuan matematis lainnya, oleh karena itu cara terbaik bagi siswa untuk
memulai belajar konsep dan prinsip dalam matematika adalah dengan
mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang dipelajari itu.
Jika
dalam penyusunan dan perumusan tersebut disertai bantuan objek-objek konkret,
maka anak lebih mudah memahaminya, dan ide tersebut lebih tahan lama dalam
ingatanyya. Ketika siswa mengalami kesulitan mendefinisikan suatu konsep,
seyogyanya guru memberikan bantuan secara tidak final sehingga bentuk akhir
dari konsep ditemukan oleh siswa sendiri.
2.
Dalil
notasi, menyatakan bahwa notasi matematika yang digunakan harus disesuaikan
dengan tingkat perkembangan mental anak (enaktif, ikonik, dan simbolik).
Sebagai
Contoh : Kita dapat memilih notasi y = 2x + 3 untuk anak SMP dari pada notasi
f(x) = 2x + 3 . . Sedangkan untuk anak
SD kita bisa menggunakan symbol-simbol yang dikenalnya,
yaitu Δ =
2 □ + 3
sebagai
contoh lagi :
-
Notasi 3
x 2 dapat dikaitkan dengan 3 x 2 tablet
-
Soal
seperti ….+ 4 = 7 dapat diartikan sebagai menentukan bilanagan kalau ditambah 4
akan menghasilkan 7.
3.
Dalil
pengkontrasan dan keaneragaman (variasi), menyatakan bahwa suatu
konsep
harus dikontraskan dengan konsep lain dan harus disajikan dengan contoh-contoh
yang bervariasi.
Misalnya,
untuk memahami konsep bilangan 2,siswa diberi kegiatan untuk membuat kelompok
benda yang beranggotakan 2. Selain itu juga diberi kegiatan untuk membuat
kelompok benda yang tidak beranggotakan 2. Bisa juga memilih kelompok-kelompok
mana yang merupakan kelompok 2 benda, dan kelompok-kelompok mana yang bukan 2
benda. Contoh :
Berilah
tanda √ pada kelompok 2 benda !

Berilah
tanda X pada kelompok yang bukan 2 benda !

Sebagai
contoh juga dibawah ini adalah himpunan yang bukan contoh (noncontoh) dan yang
menjadi contoh dari himpunan kosong :
a.
Noncontoh
konsep himpunan kosong :
o
Himpunan
Siswa SMP yang umurnya 14 Tahun
o
Himpunan
Bilangan Asli antara 10 dan 14
o
Himpunan
Ibukota Propinsi yang diawali dengan S
o
Himpunan
anak Presiden SBY
b.
Contoh
Konsep himpunan kosong
o
Himpunan
Siswa SMP yang umurnya 41 Tahun
o
Himpunan
Bilangan Asli antara 10 dan 11
o
Himpunan
Ibukota Propinsi yang diawali dengan X
o
Himpunan
siswa SMP yang tidak naik kelas 3 tahun berturut turut.
4.
Dalil
pengaitan (Konektivitas) yang menyatakan bahwa antara konsep matematika yang
satu dengan konsep yang lain mempunyai kaitan yang erat, baik dari segi isi
maupun dari segi penggunaan rumus-rumus. Materi yang satu merupakan prasayarat
bagi materi yang lain, atau suatu konsep yang digunakan untuk menjelaskan
konsep yang lain.
Misalnya
rumus luas persegi panjang merupakan materi prasyarat untuk penemuan rumus luas
jajargenjang yang diturunkan dari rumus persegi panjang.
Dengan
pendekatan intuitif-deduktif, rumus volume tabung digunakan untuk menemukab
rumus volume kerucut. Oleh karena itu, diperlukan alat peraga model sebuah
tabung tanpa tutup, dan kerucut tanpa bidang alas, dengan syarat tinggi kerucut
sama dengan tinggi tabung dan jari-jari alas tabung sama dengan jari-jari alas
kerucut.


Kegiatan
yang diberikan pada anak adalah dengan menggunakan pasir, anak mengukur isi
tabung dengan takaran kerucut. Anak akan mendapatkan bahwa untuk mengisi tabung
dengan pasir hingga penuh menggunakan takaran kerucut, diperlukan 3 kali
menuangkan pasir dari kerucut. Secara intuitif, anak dapat mengerti bahwa
volume tabung = 3 x isi kerucut, atau volume kerucut =
volume tabung.
Lebih
lanjut, berbagai jenis kegiatan dalam pembelajaran yang menerapkan teorema
bruner dapat diwujudkan dalam berbagai kegiatan seperti berikut ini :
1.
Pengalaman
langsung
Anak
diminta untuk mengalami, berbuat sendiri dan mengelolah, merenungkan apa yang
dikerjakan.
2.
Pengalaman
yang diatur
Sebagai
contoh dalam membicarakan suatu benda, jika benda tersebut terlalu besar atau
kecil, atau tidak dapat dihadirkan di kelas maka benda tersebut dapat diragakan
dengan model.
Contoh
dalam matematika adalah model model anggota himpunan tertentu,Peta, gambar
benda benda yang tidak mungkin dihadirkan di kelas seperti binatang, pohon,
bumi dll.
3.
Dramatisasi
Misalnya
: Permainan peran, sandiwara boneka yang bias digerakkan ke kanan dank e kiri
pada garis bilangan.
4.
Demonstrasi.
Biasanya
dilakukan dengan menggunakan alat alat bantu sepereti papan tulis, papan
flannel, OHP dll.
Banyak
topic dalam pembelajaran matematika yang dapat diajarkan dengan demonstrasi, misalnya
: penjumlahan dan pengurangan
5.
Karyawisata
Kegiatan
ini sebenarnya sangat baik untuk menjadikan pelajaran matematika disenangi
siswa. Kegiatan yang diprogramkan dengan melibatkan penerapan konsep matematika
seperti mengukur tinggi obyek secara tidak langsung, mengukur lebar sungai,
mendata kecenderungan kejadian dan realitas yang ada dilingkungan merupakan
kegiatan yang sungguh sangat menarik dan sangat bermakna bagi siswa serta bagi
daya tarik pelajaran matematika di kalangan siswa.
6.
Pameran
Pameran
adalah suatu usaha menyajikan berbagai bentuk model model kongkrit yang dapat
digunakan untuk membantu memahami konsepmatematika dengan cara yang menarik.
Berbagai
bentuk permainan matematika ternyata dapat menyedot perhatian anak untuk
mencobanya, sehinggga jenis kegiatan ini cukup bermakna untuk diterapkan dalam
pembelajaran matematika.
7.
Televisi
sebagai alat peragaan
Program
pendidikan matematika yang disiarkan melalui media TV juga merupakan
alternative yang sangat baik untuk pembelajaran Matematika.
8.
Film
sebagai alat Peraga
9.
Gambar
sebagai alat peraga
Dengan
demikian jelaslah bahwa asas peragaan dalam pembelajaran Matematika adalah
sangat bermakna untuk meningkatkan pemahaman dan daya tarik siswa untuk
mempelajari Matematika.
C. Aplikasi teori belajar
Bruner dalam pembelajaran
Langkah-langkah pembelajaran
menggunakan model kognitif teori Bruner :
1. Menentukan tujuan-tujuan instruksional
2. Memilih materi pelajaran
3. Menentukan topik-topik
yang akan diajarkan
4. Mencari contoh-contoh,
tugas, ilustrasi dsbnya., yang dapat digunakan peserta didik untuk bahan
belajar
5. Mengatur topik peserta
didik dari konsep yang paling kongkrit ke yang abstrak, dari yang
sederhana ke kompleks
6. Mengevaluasi proses dan
hasil belajar
Penerapan teori belajar Bruner dalam
pembelajaran dapat dilakukan dengan:
1. Sajikan contoh
dan bukan contoh dari konsep-konsep yang anda ajarkan.
Misal : untuk contoh mau mengajarkan
bentuk bangun datar segiempat, sedangkan bukan contoh adalah berikan bangun
datar segitiga, segi lima atau lingkaran.
2. Bantu si belajar
untuk melihat adanya hubungan antara konsep-konsep.
Misalnya berikan pertanyaan kepada
sibelajar seperti berikut ini ” apakah nama bentuk ubin yang sering digunakan
untuk menutupi lantai rumah? Berapa cm ukuran ubin-ubin yang dapat digunakan?
3. Berikan satu
pertanyaan dan biarkan biarkan siswa untuk mencari jawabannya sendiri. Misalnya
Jelaskan ciri-ciri/ sifat-sifat dari bangun Ubin tersebut?
4. Ajak
dan beri semangat si belajar untuk memberikan pendapat berdasarkan intuisinya.
Jangan dikomentari dahulu atas jawaban siswa, kemudian gunakan pertanyaan yang
dapat memandu si belajar untuk berpikir dan mencari jawaban yang sebenarnya.
Berikut ini contoh penerapan teori belajar
Bruner dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar:
1.
Mempelajari
penjumlahan dua bilangan cacah
a. Tahap enaktif
Dalam mempelajari penjumlahan dua bilangan cacah,
pembelajaran akan terjadi secara optimal jika mula-mula siswa mempelajari hal
itu dengan menggunakan benda-benda konkrit (misalnya menggabungkan 3 kelereng
dengan 2 kelereng, dan kemudian menghitung banyaknya kelereng semuanya).
b. Tahap ikonik
Kegiatan belajar dilanjutkan dengan menggunakan gambar
atau diagram yang mewakili 3 kelereng dan 2 kelereng yang digabungkan tersebut
(dan kemudian dihitung banyaknya kelereng semuanya, dengan menggunakan gambar
atau diagram tersebut). Pada tahap yang kedua siswa bisa melakukan
penjumlahan itu dengan menggunakan pembayangan visual (visual imagery)
dari kelereng, kelereng tersebut.
c. Tahap simbolik
Sebagai contoh, Kemudian, Pada tahap berikutnya, siswa
melakukan penjumlahan kedua bilangan itu dengan menggunakan lambang-lambang
bilangan, yaitu : 3 + 2 = 5.
2.
Pembelajaran
menemukan rumus luas daerah persegi panjang
Untuk tahap contoh berikan bangun persegi
dengan berbagai ukuran, sedangkan bukan contohnya berikan bentuk-bentuk bangun
datar lainnya seperti, persegi panjang, jajar genjang, trapesium, segitiga,
segi lima, segi enam, lingkaran.
a.
Tahap
Enaktif

(a)
Untuk gambar a ukurannya: Panjang
= 13 satuan
Lebar = 1 satuan
Untuk gambar b ukurannya: Panjang
= 10 satuan
Lebar = 2 satuan
Untuk gambar c ukurannya: Panjang
= 5 satuan
Lebar = 4 satuan
b.
Tahap Ikonik
Penyajian pada tahap ini
apat diberikan gambar-gambar dan Anda dapat berikan sebagai berikut.
c.
Tahap Simbolis
Siswa
diminta untuk mngeneralisasikan untuk menenukan rumus luas daerah persegi
panjang. Jika simbolis ukuran panjang p, ukuran lebarnya l , dan luas daerah
persegi panjang L

l
maka jawaban yang diharapkan L =
p x l satuan
Jadi luas persegi panjang adalah ukuran panjang dikali dengan
ukuran lebar.
3.
Mempelajari Penjumlahan dua Bilangan
a. Tahap Enaktif
Para siswa dapat
saja memulai proses pembelajarannya dengan menggunakan beberapa benda myata
sebagai “jembatan” seperti :
-
Siswa
bergerak sesuai aturan yang ada, yaitu :
·
3 + 2
berarti maju 3 langkah (dari 0) diikuti maju 2 langkah.
·
3 +(-2)
berarti maju 3 langkah (dari 0) diikuti mundur 2 langkah.
·
3 – 2
berarti maju 3 langkah (dari o) , balik arah dan maju 2 langkah
·
3 – (-2)
berarti maju 3 langkah (dari 0) , balik arah dan mundur 2 langkah .
-
Semacam
kion dari plastic dengan tanda “ + “ dan “ – “
b. Tahap Ikonik
Jika pada proses
pembelajaran penjumlahan dua bilangan bulat di mulai dengan menggunakan benda
nyata berupa garis sebagai “Jembatan “ , maka tahap ikonik untuk beberapa
penjumlahan dapat saja berupa gambar atau diagram berikut :
Gambar diatas
menunjukkan (+3) + (+2) = +5.
Sedangkan gambar
di bawah ini menunjukkan (+3) + (-2) = +1 , dua tanda “+” dan dua tanda “-“
akan hilang seperti ion positif dan ion negative akan lenyap pada pelajaran
fisika.
c. Tahap Simbolik
Dapat
menjumlahkan dua bilangan bulat hanya dengan menggunakan garis garis bilangan
maupun koin positif dan negative , baik secara enaktif maupun ikonik (
menggunakan gambar atau diagram ) belumlah cukup untuk itu siswa harus melewati suatu tahap
dimana pengetahuan tersebut diwujudkan dalam bentuk symbol symbol abstrak.
Dengan kata lain siswa harus mengalami proses berabstraksi.
Diantara
perbedaan yang ada pada saat menentukan hasil dari 2 + 3 ataupun 3 + 4 pada
tahap enaktif dan Ikonik, proses berabstraksi terjadi pada saat siswa menyadari
bahwa ada kesamaan gerakan yang dilakukannya, yaitu ia akan bergerak dua kali
ke kanan. Dengan bantuan guru , siswa diharapkan dapat menyimpulkan bahwa
penjumlahan dua bilangan positif akan
menghasilkan bilangan positif pula. Tidaklah mungkin menghasilkan bilangan
negative.
Dengan proses
berabstarksi juga siswa diharapkan mampu menyimpulkan bahwa penjumlahan dua
bilangan negative akan menghasilkan bilangan negative juga. Karena dua kali
pergerakan ke kiri akan menghasilkan suati titik yang terletak beberapa langkah
di sebelah kiri titik 0.
Para siswa harus
dibantu untuk memahami bahwa jika 2 + 3 = 5, maka -2 + (-3) = -5. Dengan begitu
-100 + (-200) = -300 karena 100 + 200 = 300 dan -537 + (-298) = -835 karena 537
+ 298 = 835.
Pada intinya
menentukan penjumlahan dua bilangan negative adalah sama dengan menentukan
penjumlahan dua bilangan positif, hanya saja tanda dari hasil penjumlahannya
haruslah negative.
Prosesw
berabstraksi yang lebih sulit akan terjadi pada penjumlahan dua bilangan bulat
yang tandanya berbeda. Hasilnya bias positif dan bias juga negative, tergantung
pada seberapa jauh perbedaan gerakan ke kiri dengan gerakan ke kanan. Para guru
dapat meyakinkan para siswa bahwa hasil penjumlahan dua bilangan yang tandanya
berbeda akan di dapat dari selisih atau beda kedua bilangan tersebut tanpa
melihat tandanya. Sebagi contoh , 2 + (-3) = -1 karena beda atau selisih antara
2 dan 3 adalah 1 sedangkan hasilnya bertanda negative karena pergerakan ke kiri
lebih banyak .namun 120 + (-100) = 20 karena beda antara 100 dan 120 adalah 20
serta pergerakan ke kanan lebih banyak.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Bruner
menekankan pada proses belajar meggunakan metode mental, yaitu individu yang
belajar mengalami sendiri apa yang dipelajarinya agar proses tersebut dapat
direkam dalam pikirannya dengan caranya sendiri.
2. Tahap
perkembangan menurut Bruner :
a.
Tahap
enaktif
b.
Tahap
ikonik
c.Tahap simbolik
B. Saran
1. Guru dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk mendorong siswa
memberikan “dugaan sementara”.
2. Guru harus bertindak sebagai fasilitator.
3. Guru perlu menggunakan berbagai alat peraga dan permainan
menggunakan teknologi.
4. Guru perlu untuk selalu mendorong siswa mengembangkan pikirannya.
DAFTAR PUSTAKA
Djiwandon, Sri Esti W. 2002.
Psikologi Pendidikan (Rev-2). Jakarta:
Grasindo.
Eka
P., Novita. 2006. Meningkatkan Prestasi
Belajar Siswa Tentang Operasi Hitung Bilangan Bulat Menggunakan Teori Bruner. Semarang
: UNNES.
Pitadjeng.
2006. Pembelajaran Matematika yang
Menyenangkan. Jakarta : Depdiknas.
Sugihartono,
dkk..2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta
: UNY Press.
Tim
Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI. 2007. ILMU
DAN APLIKASI PENDIDIKAN Bagian III: Pendidikan Disiplin Ilmu. Jakarta :
Grasindo.
Tim
Penyusun. 2007. Model Silabus Tematik
Sekolah Dasar Kelas 3. Jakarta: Grasindo.





1 komentar:
tittanium - TITanium Arts - Tutanium Games
Tittanium Games are a blue titanium cerakote premium HTML5, HTML5, and HTML6 based titanium wedding rings online platform that has titanium cookware received HTML5 titanium pipes certification man titanium bracelet in many HTML5
Posting Komentar